Ilmu Logika Tidak Akan Bisa Menjawab Awal Mula Atas Segala Sesuatu

0
120
Awal Mula Atas Segala Sesuatu
Awal Mula Atas Segala Sesuatumenjawab pertanyaan mengenai awal mula atas segala sesuatu.

Pembahasan ini tampaknya sama dengan pertanyaan “ayam dan telur, mana lebih dulu?” seperti yang pernah saya bahas sebelumnya. Banyak teori yang menjawab pertanyaan “antik” tersebut melalui akal logika, seperti teori evolusi yang menyatakan bahwa adanya proto-chicken (ayam purba) yang menghasilan telur proto-chicken, kemudian berevolusi selama jutaan tahun hingga pada akhirnya menjadi bentuk ayam yang seperti sekarang ini.

Namun nyatanya apakah ilmu logika tersebut benar-benar menjawab asal mula ayam dan telur tersebut? Ya, jika konteksnya adalah “ayam dan telur”, namun, jawaban atas pertanyaan filsafat memang selalu menimbulkan pertanyaan baru dan akan terus seperti itu, sekarang jika konteksnya menjadi “proto-chicken dan telur proto-chicken”, lantas, dari mana asal mula proto-chicken dan telurnya tersebut?

Memang sangat menarik, ketika melihat ketidak berdayaan manusia terhadap problem keilmuan yang mereka temui sendiri. Pertanyaan sederhana mengenai ayam dan telur tersebut secara tidak langsung adalah merujuk kepda pertanyaan maha penting dalam filsafat, mana yang pertama dan mana yang kedua?, mana yang asal dan mana yang akibat?

Ketika manusia ingin menjawab sebuah pertanyaan yang dengan akal logikanya sudah tidak bisa menjawabnya lagi, seharusnya manusia bisa beralih kepada deskripsi sang pencipta realistis kehidupan (Konsep Teologi). Sebab apabila ilmu adalah sebuah konsep yang maha sempurna, maka ilmu tidak boleh berujung pada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, karena ilmu adalah konstruksi dari kebenaran sehingga kebenaran tersebut bisa dipahami secara menyeluruh.

Kini, siapa yang dapat menjawab masalah keilmuan yang ditemukan manusia yang manusia itu sendiri tidak dapat menjawabnya? pada dasarnya filsafat selalu berakhir pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh akal logika manusia, sehingga mau tidak mau, manusia harus mengalihkan pandangan pada konsep Teologi (agama) yang selalu mempunyai jawaban untuk mengatasi problem keilmuan yang tidak memiliki awal dan akhir.

Sehingga sudah sangat jelas bahwa sebenarnya akal logika tidak dapat menjawab pertanyaan “ayam dan telur” tersebut alias awal dari segala sesuatu, karena jawaban akal logika (sains) atas pertanyaan filsafat hanya menghasilkan “Kebenaran Logika” dan akan selalu berujung pada pertanyaan-pertanyaan baru yang tiada akhir.

Kebenaran logika adalah kebenaran versi akal manusia yang tentunya setiap manusia memiliki banyak versi atau persepsi mengenai kebenaran dalam suatu problem keilmuan. Sedangkan “Kebenaran Hakiki” adalah kebenaran yang diciptakan oleh Tuhan untuk tidak dapat dirubah oleh manusia, berbeda dengan kebenaran logika yang memiliki banyak persepsi, kebenaran hakiki hanya satu karena hanya ditetapkan oleh satu Tuhan.

Apabila “tuhan” banyak, maka kebenaran hakiki tesebut tidak lagi bisa disebut “Hakiki”, karena masing-masing “tuhan” akan membuat persepsi kebenaran sendiri, sehingga kebenaran akan menjadi relatif dan tidak menjadi “Hakiki” lagi. Alasan ini lah membuat Ilmu Hakikat sangat penting untuk menjawab secara ilmiah bahwa Tuhan sebenarnya adalah satu!

Kesimpulannya, untuk menjawab pertanyaan awal dari segala sesuatu, hanya dapat ditemukan pada konsep Teologi (agama/kitab suci), bukan pada filsafat, sebab yang diajarkan oleh filsafat adalah bentuk kebenaran logika (sudut pandang manusia yang banyak, terkadang manusia itu sendiri kebingungan untuk menyikapi problem yang mereka temui sendiri). Sedangkan konsep Teologi akan membawa kita pada kebenaran hakiki!

Refrensi:
https://www.kompasiana.com/ujangbandeung/ilmu-logika-semata-tidak-akan-pernah-bisa-menjawab-mana-yang-terlebih-dahulu-ada-ayam-atau-telor_5512d0048133119724bc5fd4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.