Indonesia, Bangsa Yang Terbelenggu Logika Mistik

0
182
Logika Mistik, Madilog, Tan Malaka
Foto: http://Getwallpapers.com

“Logika Mistik”, itu lah istilah yang digunakan oleh Tan Malaka, sang pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus toko Komunis di Indonesia, melalui bukunya yang berjudul Madilog (Materialistik, Dialektika dan Logika), sebuah maha karya yang sangat komplit (setidaknya menurut saya). Istilah Logika Mistik yang disebut-sebut Tan Malaka merujuk pada cara pola berpikir atau pandangan yang tidak rasional.

Itulah kenyataan yang dilihat Tan Malaka—setidaknya juga pasti kita rasakan—bahwa bangsa Indonesia masih terkukung oleh logika mistik yang menyebabkan bangsa ini tidak pernah maju (dalam berpikir). Lewat Madilog, beliau menghimbau kepada kita untuk berpikir secara rasional dan membebaskan diri dari pemikiran yang serba keterbelakangan.

WAKTU TERUS MAJU, BEGITU PUN ZAMAN YANG TERUS BERKEMBANG, NAMUN NYATANYA TIDAK DENGAN CARA POLA BERPIKIR

Menurut Tan Malaka, kemajuan umat manusia terbagi menjadi tiga tahap: Dari “Logika Mistik” melalui “Filsafat” ke “Ilmu Pengetahuan” (sains). Sudah bukan rahasia lagi jika bangsa Indonesia terlalu di pengaruhi oleh hal yang serba tidak masuk akal (takhayul, ramalan, mantra, pamali, sesajen, roh dan sejenisnya), dimana hal tersebut—yang Tan Malaka sebut dengan Logika Mistik—akan melumpuhkan pikiran, karena ketimbang menangani permasalahan yang dihadapi, lebih baik mengharapkan kekuatan-kekuatan ghaib itu sendiri.

Soe Hok Gie pernah mengatakan bahwa suatu dasar kebudayaan yang kuat tidak akan bisa dikalahkan oleh budaya lain, contoh gampangnya adalah jika seorang yang sejak kecil terlahir dikeluarga beragama Kristen, kemungkinan kecil baginya untuk terpengaruh berpindah agama lain. Mungkin cara berpikir logika mistik bangsa Indonesia ini sudah sangat mengakar dan membudaya sehingga sangat sulit sekali dipengaruhi kebudayaan lain.

Naasnya hingga saat ini bangsa Indonesia masih terus terdoktrin oleh generasi terdahulu yang mewarisi kebudayaan tersebut dan akan terus diwarisi kepada generasi selanjutnya. Apakah perlu diadakan sebuah edukasi (disekolah) mengenai pemikiran rasional sejak dini guna memutuskan logika mistik tersebut?

Secara perkembangan zaman, Indonesia memang sudah menjadi bangsa yang maju—setidaknya dari segi teknologi—hampir semua kalangan, berbagai usia, sudah memanfaatkan gadget dan internet sebagai penunjang aktivitas sehari-hari, dimudahkan pekerjaannya oleh teknologi. Namun bagaimana dengan cara pola berpikirnya? apakah ikut maju seperti waktu, sang tempo yang terus melaju? seperti zaman yang terus mengalami perubahan?

Jika kita melihat fenomena yang pernah terjadi saat ini, bangsa kita terlihat seperti pasrah dan mudah menyerah pada realitas kehidupan, contohnya seperti percaya pada ramalan, menggali tanah makam para leluhur atau sebuah batu yang dicelupkan kedalam air dan diminum untuk menyembuhkan berbagai penyakit (Ponari “si bocah penyembuh”).

Namun nyatanya tidak hanya kalangan bawah saja, masih ingat dengan Eyang Subur? masyarakat kelas atas pun percaya, berguru dan menggantungi nasib kepada yang ngakunya “sakti” demi mendulang popularitas dan elektabilitas. Hal berbau irasional menjadi opsi untuk mengejar keinginan, seakan terkesan pasrah dengan usaha sendiri bahkan sulit untuk berpikir mandiri.

Fenomena-fenomena tersebut lah yang oleh Tan Malaka tadi sebut dengan “logika mistik melumpuhkan”. Tan Malaka mengajarkan kepada kita bahwa cara berpikir menjadi faktor penting dalam perubahan suatu Negara (entah itu menjadi Negara maju atau malah terus menjadi negara yang keterbelakangan).

MEREKA YANG BERLOGIKA MISTIK HANYA TERKAMUFLASE OLEH ZAMAN MODERN NAMUN PIKIRANNYA SEAKAN DIBUNUH OLEH PARA PENJAJAH

Refrensi:

  • Buku “Madilog” karya Tan Malaka
  • https://www.kompasiana.com/fauzansukma/kita-dalam-logika-mistika_57dfd0ed759373d845aef013

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.